Urgensi Data Saat Pandemi

Internal - 28 Juni 2020 - 12:00 AM

Data dalam pengendalian kebencanaan sangat penting. Data merupakan bentuk suatu informasi yang bersifat ilustrasi. Dalam hal ini, negara maju memiliki infrastruktur, teknologi yang tinggi akan tetapi perkembangan covid juga signifikan. Indonesia memiliki 51 lebih kasus yang terbilang kecil dalam hal covid-19. Infografis perkembangan antar negara sangat beragam. Dalam perkembangan kasus positif covid-19 sangat meningkat di Indonesia dibandingkan dengan negara lain. Covid 19 dinyatakan dalam flu biasa namun tingkat kematian berbeda-beda tiap negara dan sangat signifikan. Di Indonesia tingkat kematian covid terbilang dibawah 10% tetapi diatas 5% dengan rata-rata 3-4% (data rasio). Pemahaman terhadap data harus dimaksudkan dalam bagaimana konteks terhadap data tersebut. Konteks angka atau data harus lebih diperhatikan. Negara Jerman memiliki data rasio lebih dari 10% bahkan lebih dari 30%. Artinya mereka dapat mendapatkan 1 positif dari 30 orang yang ditest. Sedangkan Indonesia hanya 9 orang yang ditest sudah memiliki 1 positif. Artinya konteks data bukan pada bukan terhadap berapa banyaknya tapi jumlah yang ditemukan positif. Oleh karena itu, Indonesia sangat beresiko terkena dampak covid 19. Data dalam bilang spasial dan data digambarkan secara informatif seperti dalam hal pengelompokan dan hierarki di masing-masing wilayah. Kasus positif di Indonesia akan terus meningkat dan akan mencapai puncak populasi. Jika dilihat dari data, ketika dalam suatu waktu Indonesia hanya bisa merawat sekitar 3.000 orang dan lama kelamaan akan bertambah, maka rumah sakit tidak dapat menampung atau merawat banyaknya jumlah positif yang bertambah setiap harinya.

Data forecasting memiliki suatu catatan dimana data tersebut dapat naik dan data tersebut dapat turun. Dalam sebuah kebijakan yang diterapkan di Inggris, diambil berdasarkan perhitungan dari data yang signifikan. Dimana pada data yang terdapat di Inggris terdapat penurunan yang signifikan. Sedangkan di Iran, memiliki kebijakan yang berbeda lagi tergantung dari data yang ada. Data selalu dikaitkan dengan kualitas, angka dan fakta. Tetapi dalam data harus tertuju pada society 4.0. Artinya setiap informasi harus dikaitkan dengan data dengan menggunakan pendekatan data sains. Data terdiri dari data kuantitatif dan kualitatif. Dalam hal ini, angka sangat menjadi perhatian dalam setiap konteksnya. Selain itu, mengapa data perlu dikelola? Hal tersebut karena data dapat menjadi problem selving and value creation serta resilience. Dalam konteks penanganan covid, data bisa menjadi protokol atau standarisasi penanganan serta epidemologi dalam meningkatkan ketahanan kota. Dalam konteks umum, data merupakan gambaran histori suatu fenomena, landasan pengambilan keputusan, komputerisasi bisa jadi hanya menjawab efisiensi, pengembangan pengetahuan dan evaluasi serta pengembangan kecerdasan.

Materi dipresentasikan oleh Achmad Ghozali, S.T., M.T. dan disarikan oleh Rindi Cynthia Dara